The Wandering Earth (2019) Review

Saat kondisi matahari sekarat dan core nya semakin membesar mengakibatkan kerusakan pada tata surya. Semua manusia di dunia bersatu menjalankan misi untuk menyelamatkan bumi, memindahkan bumi ke tata surya lain, gila!

Premis itu terdengar gila dan tidak masuk akal untuk film bertema science fiction atau kartun sekalipun. Namun pesan yang disampaikan film ini cukup menyadarkan kita tentang pentingnya menanamkan nilai-nilai persatuan, kepedulian menjaga ekosistem alam yang kita tinggali, dan menyalakan terus api yang bernama harapan.

Film ini merupakan adaptasi dari novel The Wandering Earth karangan Liu Cixin seorang penulis buku science fiction yang sudah 9 kali memenangkan Galaxy Award, penghargaan di China untuk karya literasi science fiction.

Film nya sendiri merupakan sebuah achievement bagi industri film mandarin dan menjadi film dengan budget produksi terbesar di negara tersebut dengan estimasi nilai mencapai $48MM atau sekitar 685 Milyar Rupiah. Nilai tersebut wajar jika melihat deretan cast dan visual film ini yang berhasil memadukan practical effect dengan CGI yang tak kalah dengan film-film produksi Hollywood.

Earth VS Jupiter

Sentral cerita ada pada keluarga Liu Peiqiang (Jing Wu) yang bekerja di space station khusus untuk navigasi misi perjalanan Bumi ke sistem tata surya baru, dan perjuangan ayahnya Han Ziang (Man-Tat Ng), anaknya Liu Qi (Chuxiao Qu), serta anak angkat ayahnya Han Duoduo (Jin Mai Jaho), bersama satuan unit penyelamat misi “Wandering Earth” yang di pimpin oleh Wang Lei (Guangjie Li) yang terpaksa harus keluar dari bunker perlindungan untuk memperbaiki kerusakan pada command center mesin roket pendorong yang berada di Sulawesi. Yes, diceritakan pulau Sulawesi negara Indonesia yang berada pas di garis equator bumi merupakan salah satu dari 10.000 titik instalasi mesin roket pendorong yang tersebar di seluruh dunia. Misi penyelamatan harus dilakukan karena di tengah perjalanan menuju tata surya baru, ternyata Bumi tertarik oleh gravitasi planet Jupiter yang besar.

Sutradara Frant Gwo menciptakan ketegangan khas film-film bertema apocalypse dipadu dengan drama dan komedi khas film mandarin dengan sangat baik. Ditambah dengan produksi visual environment ber-setting masa depan dan CGI yang berkualitas, serta rentetan adegan aksi yang menegangkan, membuat saya hampir lupa kalau ini adalah film mandarin.

Untuk film bergenre science fiction, premis film ini cukup menyegarkan dan terlihat berusaha namun terkesan memaksa untuk stay true to science. Walaupun endingnya sudah bisa di tebak, namun visual yang di hadirkan sepanjang film cukup spektakuler dan membuat saya betah menyaksikan film berdurasi 125 menit ini.

Rating 7.5/10

Source: imdb.com, wikipedia.com.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑